Rabu, 14 September 2011

OJEG ATAU OJEK ?

SARANA TRANSPOTASI INFORMAL DAN PRAKTIS

Ojeg suatu sarana transportasi informal yang ada di kota kota bahkan telah merambah di desa.
Seingat ku tahun 1968 an, kudengar istilah ojeg, ketika berada di daerah pelabuhan Tanjung Priok.
Di perempatan jalan terdapat beberapa orang mangkal dengan beberapa sepedah. Pengojeg menunggu penumpang. Sepedah tampak khas sekali, pada bagian belakangnya terdapat boncengan yang dilengkapi dengan bantalan jok coklat berisi busa. Nah jenis kendaraan yang mangkal di perempatan inilah aku tahu bahwa waktu itu disebut Ojeg.
Aku tahu istilah Ojeg dari salah satu pengojeg.
Istilah ojeg berasal dari kata Oto Jegang.
Lucu ya? Bisa dibanyangkan penumpangnya bagai naik “Oto” yang berarti mobil, padahal numpang di belakang sepedah, diatas jok yang empuk, tapi duduknya “ nge jegang” alias diantara ke dua kakinya terbuka .
Dengan berkembangnya jaman akan kebutuhan transportasi yang lebih praktis dan cepat. Sekarang Ojeg beralih banyak menggunakan sepeda motor. Sepeda sudah jarang sekali, hampir tidak ada.
Sepeda motor sebagai sarana pengojek, didapatkan dari modal sendiri, menyewa, mengkridit atau beli sewa. Beragam.
Di daerah banyak motor bodong, tidak memiliki surat surat. Namun mereka dapat beroperasi karena ada pelindung. Toh mereka dilindungi keberlangsungannya agar tetap aman dalam usaha maupun aman perjalanan membawa penumpang.
Transaksi ongkos ojeg sangat simple, dengan menyebutkan tujuan, mereka langsung menawarkan ongkosnya. Tentunya dapat ditawar, sampai tercapai kesepakatan. Kadang kadang kalau penumpangya cantik, merkerka merelakan gratis untuk mengantarkan.
Aku pernah mencari tempat tinggal pak Ade di suatu desa Dayeuh Manggung Garut. Transaksi dilakukan di perempatan jalan yang telah sesuai diberi tahukan pak Ade. Salah satu Tukang ojegpun menyanggupi untuk mengantar. Setelah sampai di desa tersebut ternyata nama pak Ade banyak. Sampai beberapa nama pak Ade tidak sesuai dengan yang kumaksud. Setelah lima kali ketemu pak Ade, baru di temukan yang kumaksud. Rupanya pengojek menyanggupi dahulu dengan harapan pasti ketemu, asalkan ongkos sesuai. Gimana entar!
Ojeg berada di perempatan perempatan kota, bagian depan Perumahan, tempat mangkal nya bertuliskan “ PANGKALAN OJEG “. Di situlah pengojek tempat berkumpul , arisan, bercanda, nonton televisi bareng. Mereka membentuk kelompok membuat sistem agar pengojeg mendapatkan pembagian calon penumpang secara merata.
Di buat suatu group keanggautaan.
Ada group yang menolak anggauta baru. Rupanya seleksi keanggautaan layak atau tidaknya. Psikotes dan ketrampilan kalee… Ternyata benar, calon pengojek tersebut mempunyai ketajaman penglihatan yang rendah.
Ada group Ojek memiliki seragam sendiri. Bahkan seragam mereka jacket kulit. Gaya dan macho lho...
Ada juga group ojek yang melarang kendaraan roda empat masuk kedalam kawasannya, pada waktu tertentu. Lebih dari itu sesama ojeg yang lain kawasan tidak diperbolehkan masuk kawasannya. Monopoli kawasan. Lumayan merepotkan, penumpang yang menjadi sasaran, karena harus ganti kendaraaan.
Ada pengojek di kawasan komplek mendapatkan langganan untuk mengantarkan anak ke sekolah atau kerjaan rutin ke kantor.

Ojek merupakan alat transportasi yang efektif bila kita sedang dikejar waktu agar segera sampai di tempat tujuan. Apalagi di kota Metropolitan, Jakarta. Aku pernah mencoba membandingkan kecepatan untuk mencapai tujuan secara cepat. Dibandingkan mobil taksi, bemo. Maka ojek lah yang paling dapat digunakan secara efektif. Walaupun jalanan di Jakarta yang begitu macet, Ojek dapat melalui trotoar agar tetap terus berjalan. Sehingga waktu tempuh lebih pendek.


vertex island

Tidak ada komentar: